Ilustrasi, sumber foto: wikipedia.org
GALAXY KIU - Parlemen Eropa mengecam tindakan Maroko terkait krisis migran di Ceuta beberapa pekan lalu. Bahkan Uni Eropa menganggap Maroko sengaja membahayakan nyawa anak-anak hanya karena perselisihan diplomatik dengan Spanyol.
Diketahui saat itu, ada 10.000 pendatang asal Maroko dan beberapa negara Afrika lainnya yang menerobos masuk ke Ceuta. Bahkan di antara para migran yang masuk ke Spanyol adalah anak di bawah umur dari Maroko.
Parlemen Eropa mendukung Spanyol atas krisis di Ceuta
Pada Kamis (10/06/2021) Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi yang mengecam tindakan Maroko dalam krisis diplomatik di Ceuta. Parlemen meminta Rabat untuk mengikuti Konvensi PBB tentang hak-hak anak dan mengingatkan bahwa perbatasan Spanyol tidak dapat diganggu gugat.
Berdasarkan resolusi tersebut terdapat 397 suara mendukung, 85 menentang dan 196 tidak memberikan suara dan mengindikasikan bahwa UE mendukung Spanyol. Parlemen Eropa menekankan bahwa Ceuta adalah batas terluar yang dilindungi dari Uni Eropa dan bahwa perlindungan ini membentuk kesatuan keseluruhan, dikutip dari laman El Pais.
Menyesali tindakan Maroko terhadap anak terlantar
Dilansir dari La Vanguardia, dalam dokumen tersebut Uni Eropa juga menolak tindakan Maroko yang menggunakan anak terlantar untuk menekan Spanyol. Ia juga menyayangkan tindakan Maroko yang tidak mempedulikan nyawa dan keselamatan anak di bawah umur yang terancam bahaya hanya karena krisis diplomatik Maroko-Spanyol.
Diketahui ada 1.200 anak terlantar yang mencoba masuk ke Ceuta dengan memanjat pagar atau berenang. Menteri Dalam Negeri Spanyol memperkirakan bahwa lebih dari 10.000 orang melintasi perbatasan bersama-sama. Tetapi sebagian besar migran telah dikembalikan ke Maroko, menurut Associated Press.
Rencana ini diusulkan oleh Jordi Cañas sejak akhir Mei
https://twitter.com/RenewEurope/status/1403016512236097544
Resolusi ini diusulkan oleh Jordi Cañas dari Partai Ciudadanos yang diajukan pada akhir Mei lalu dan kemudian dirundingkan dengan Uni Eropa, hingga disetujui pada Selasa (6/8/2021). Cañas juga mengatakan bahwa, "Masuknya imigran ini diizinkan dan dipromosikan oleh Maroko, sedangkan negara itu tidak boleh menimbulkan ancaman bagi Uni Eropa."
Selain itu, anggota Partai Los Verdes, Ernest Urtasun, mengatakan masalah ke depan terkait Sahara Barat. Terutama setelah keputusan Donald Trump untuk mengakui wilayah itu sebagai milik Maroko dengan imbalan normalisasi hubungan dengan Israel.
Sementara itu, Uni Eropa telah mendukung upaya untuk merundingkan Sahara Barat antara Maroko dan Polisario sesuai dengan keputusan PBB dan hukum internasional.


Komentar
Posting Komentar